BerandaKARIMUN70 KK Warga Desa...

70 KK Warga Desa Sebele Masih Tinggal di Rumah Beratap Rumbia, dan Dinding Kayu Tak Layak Huni

spot_img

KUNDUR, kabarkarimun.co.id – Memasuki usia Kabupaten Karimun ke 23, namun masih banyak warganya hidup jauh dari kesan layak.

Tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga tempat tinggal yang kurang memadai. Seperi yang dialami warga Desa Sebele, Kecamatan Belat.

Sekitar 70 kepala keluarga (KK) Desa Sebele menetap di rumah beratap rumbia, dan dinding kayu yang sudah lapuk.

“Ada sekitar 70 KK yang tinggal di rumah kurang layak huni. Mereka berharap adanya bantuan program bedah rumah dari pemerintah,” ungkap Kepala Desa Sebele Kecamatan Belat, M. Latif, Rabu (5/10/2022).

Mirisnya, kata Latif, 70 KK itu sudah bertahun-tahun tinggal di rumah beratap rumbia, dan dinding kayu usang.

“Kebanyakan mereka yang tinggal di rumah tak layak huni berada di suku asli Bawah Batang. Mayoritas mereka bekerja sebagai nelayan, dan petani,” beber Latif.

Sejauh ini, kondisi rumah warga atapnya banyak yang rusak. Dinding lapuk. Sebelumnya sudah pernah diusulkan baik di Kementerian Perumahan Rakyat.

“Sejauh ini belum ada bantuan untuk perbaikan rumah warga menjadi rumah layak huni,” imbuh Latif miris. (mas)

spot_img
SARAN BERITA

70 KK Warga Desa Sebele Masih Tinggal di Rumah Beratap Rumbia, dan Dinding Kayu Tak Layak Huni

KUNDUR, kabarkarimun.co.id – Memasuki usia Kabupaten Karimun ke 23, namun masih banyak warganya hidup jauh dari kesan layak.

Tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga tempat tinggal yang kurang memadai. Seperi yang dialami warga Desa Sebele, Kecamatan Belat.

Sekitar 70 kepala keluarga (KK) Desa Sebele menetap di rumah beratap rumbia, dan dinding kayu yang sudah lapuk.

“Ada sekitar 70 KK yang tinggal di rumah kurang layak huni. Mereka berharap adanya bantuan program bedah rumah dari pemerintah,” ungkap Kepala Desa Sebele Kecamatan Belat, M. Latif, Rabu (5/10/2022).

Mirisnya, kata Latif, 70 KK itu sudah bertahun-tahun tinggal di rumah beratap rumbia, dan dinding kayu usang.

“Kebanyakan mereka yang tinggal di rumah tak layak huni berada di suku asli Bawah Batang. Mayoritas mereka bekerja sebagai nelayan, dan petani,” beber Latif.

Sejauh ini, kondisi rumah warga atapnya banyak yang rusak. Dinding lapuk. Sebelumnya sudah pernah diusulkan baik di Kementerian Perumahan Rakyat.

“Sejauh ini belum ada bantuan untuk perbaikan rumah warga menjadi rumah layak huni,” imbuh Latif miris. (mas)

SARAN BERITA