BATANG, kabarkarimun.co.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) terus berupaya memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat selama periode pengabdian yang berlangsung dari 8 Juli hingga 18 Agustus 2026.
Salah satunya dilakukan oleh Muhammad Nur Muzakkiy, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Jurusan Sastra Inggris, yang melaksanakan pengabdian di Desa Dringo, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang.
Lewat serangkaian program multidisiplin, Muzakkiy berfokus pada digitalisasi desa dan peningkatan literasi masyarakat yang dikemas dalam pendekatan dwibahasa (bilingual).

Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, Muzakkiy melihat potensi besar Desa Dringo yang perlu dipublikasikan tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global.
Hal ini diwujudkannya melalui luaran program multidisiplin pertama yang bertajuk “Peningkatan Literasi Kesehatan Sejak Dini melalui Pengenalan Anatomi Oral dan Edukasi Regulasi Emosi Berbasis Basic English bagi Siswa Sekolah Dasar (BAHAGIA)”.
Berangkat dari observasi langsung dan diskusi interaktif mengenai sejarah, demografi, dan potensi lokal, Muzakkiy mengembangkan halaman beranda website desa berbasis dwibahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).
Website ini menjadi sarana strategis untuk meningkatkan daya tarik identitas Desa Dringo di mata publik luar.
Inisiatif pengembangan desa ini sejalan dengan visi perangkat desa setempat.
Kepala Desa Dringo, Sutrisno, menyampaikan antusiasmenya terhadap program-program yang dibawa oleh mahasiswa.
“Harapan kami untuk menjelang yang akan serta yang mudah-mudahan ada perkembangan bagi desa dan sekitar lingkungannya,” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Desa Dringo, Pak Darji, turut menekankan sektor-sektor potensial desa yang perlu terus didorong.
“Untuk di bidang pertanian dan peternakan, harapan kami nantinya bisa dijadiin sebagai pertanian yang memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, karena di sini juga banyak pertanian di bidang tanaman pangan,” ujar Darji.
Guna mewadahi potensi dan harapan tersebut ke dalam sistem yang terintegrasi, langkah digitalisasi Muzakkiy diperkuat melalui program multidisiplin kedua, yaitu “Transformasi Digital Desa Berbasis Data dan Tata Kelola”.

Dalam program ini, ia membangun Pusat Informasi Digital Desa (Pusinfodes) Dringo.
Ia menyajikan informasi komprehensif mengenai data desa secara dwibahasa agar potensi pertanian dan peternakan yang ada bisa diakses khalayak luas.
Menariknya, ia juga melengkapi pusat informasi tersebut dengan fasilitas edukasi mengenai pendaftaran tes kemampuan bahasa Inggris (IELTS dan TOEFL).
Selain berfokus pada literasi digital dan bahasa, Muzakkiy juga terjun langsung dalam program sosial kemasyarakatan bertema “Temani Masa Emas Si Kecil: Edukasi Tumbuh Kembang Bayi Usia 7–9 Bulan”.
Dalam kegiatan ini, ia mengambil peran krusial di lapangan sebagai pengatur alur kegiatan (flow management) sekaligus penanggung jawab teknis operasional.
Ia memastikan kelengkapan peralatan teknis seperti sound system, alat ukur dan timbangan bayi, serta sistem nomor antrean agar jalannya edukasi berjalan tertib.

Dedikasi Muzakkiy terhadap masyarakat Desa Dringo juga terlihat dari partisipasi aktifnya dalam membantu kegiatan rutin Posyandu Balita.
Tidak berhenti di situ, untuk meningkatkan minat baca warga, ia turut menyukseskan pemasifan gerakan literasi ‘Sak Minggu Sak Buku’ (Satu Minggu Satu Buku), sebuah inisiatif yang sangat sejalan dengan napas keilmuannya.
Melalui sinergi program-program tersebut, kehadiran KKN Undip diharapkan mampu meninggalkan jejak keberlanjutan yang positif, mulai dari tereksposnya potensi pertanian desa lewat digitalisasi informasi yang mendunia, hingga peningkatan kualitas kesehatan dan literasi masyarakat Desa Dringo. (*/ifa)




